sejarah keperawatan jiwa

SEJARAH PELAYANAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA Oleh :
Ina Karlina
Sebelum Tahun 1960
Perawatan kesehatan jiwa diberikan di RS terletak jauh dari pemukiman padat Membutuhkan waktu lama§Sangat tergantung pada RS
Perawatan paska RS belum terprogram
Klien & keluarga belum dilibatkan dalam perawatan
Tahun 1960 sampai 1970
The Community Mental Health Center Act memfokuskan perhatian pada hak-hak penderita gangguan jiwa
Fokus pendanaan perawatan di RS beralih ke pusat perawatan di masyarakat
Tersedianya beberapa layanan : rawat darurat, rawat inap 24 jam, hospitalisasi parsial,  rawat jalan, konsultasi & penkes jiwa.
Tahun 1970 sampai dengan 1980
Waktu perawatan di RS menjadi lebih singkat
Dilanjutkan perawatan berbasis komunitasRS banyak yang tutup
Pelayanan di komunitas kewalahan
Banyaknya tunamisma dengan penyakit mental persisten akibat kurangnya sumber daya keluarga dan  dukungan sosial
Tahun 1980 sampai dengan 1990
Fokus perhatian nasional pada biaya perawatan yang tinggi dan kebutuhan pembatasan biaya.
Diberlakukannya managed care, mengatur hubungan antara pembayar dan penyedia jasa.
Tahun 1990 sampai dengan sekarang
Fokus pelayanan pada upaya pencegahan primer berbasis masyarakat dengan berbagai pendekatan, seperti adanya  :
pusat-pusat kesehatan mental,
pelayanan partial hospitals,
Perawatan residential,
Mobile crisis unit
pusat pelayanan harian dan
pelayanan home care.
SEJARAH PELAYANAN KEPERAWATAN DI INDONESIA
Dahulu kala, gangguan jiwa dianggap akibat kemasukan roh halus à terapi bertujuan untuk mengeluarkan roh jahat.
Sebelum ada rumah sakit jiwa, klien  gangguan jiwa berat ditampung di RSU.
RS Jiwa milik pemerintah
Juli 1882, didirikan RS jiwa pertama di Bogor
1902, didirikan RS jiwa di Lawang, Solo
1923, didirikan RS jiwa di Magelang, Jakarta, Semarang, Surabaya
1927, didirikan RS jiwa di Sabang.
SEJARAH PELAYANAN KEPERAWATAN DI INDONESIA
Saat ini Pemerintah Pusat memiliki
4 RSJ dan  1 RSKO.
Total jumlah RSJ di Indonesia saat ini ada 32 buah yang tersebar di 25 Provinsi.
STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN JIWA Oleh :
ina Karlina
STANDAR I : PENGKAJIAN
—Perawat kesehatan jiwa mengumpulkan data kesehatan pasien
—Rasional :
—Pengkajian dengan wawancara – observasi
—pengkajian pasien yang komprehensif
—Kondisi Perawat
—Kesadaran diri
—Observasi akurat
—Komunikasi terapeutik
—Dimensi asuhan yang responsive
—Perilaku Keperawatan
—Membuat kontrak keperawatan
—Mengumpulkan informasi dari pasien dan keluarga
—Validasi data kepada pasien
—Mengorganisasi data
—Elemen Kunci
—Identifikasi alasan pasien mencari pertolongan
—Kaji factor risiko berhubungan dengan keamanan pasien
—Faktor risiko berhubungan dengan keamanan pasien
—Bunuh diri atau membahayakan diri
—Perilaku kekerasan
—Gejala putus zat
—Reaksi alergi atau reaksi efek samping obat
—Kejang
—Jatuh atau kecelaksaan
—Kabur dari rumah sakit
—Instabilitas fisiologis
—Pengkajian holistik, biopsikososial
—Penilaian kondisi sehat sakit pasien dan keluarganya
—Perawatan jiwa sebelumnya pada diri pasien maupun keluarganya
—Pengobatan saat ini
—Respon koping fisiologis
—Status respons koping mental
—Sumber-sumber koping, meliputi motivasi terhadap perawatan dan hubungan yang
mendukung
—Mekanisme koping yang adaptif maupun yang maladaptive
—Masalah-masalah psikososial dan lingkungan
—Penilaian fungsi global
—Pengetahuan, kekuatan, dan defisit
—STANDAR II : DIAGNOSA
—Perawat kesehatan jiwa menganalisa data hasil pengkajian untuk menentukan diagnosis.
—Rasional
Dasar pemberian asuhan keperawatan jiwa adalah mengakui dan identifikasi pola respons penyakit jiwa dan masalah mental baik aKtual maupun potensial
—Kondisi Perawat pada Diagnosa
—Pembuatan keputusan yang logis
—Pengetahuan tentang parameter normal
—Berpikir induktif atau deduktif
—Peka terhadap budaya
—Perilaku Keperawatan
—Identifikasi pola-pola dalam data
—Membandingkan data dengan kondisi normal
—Menganalisa dan sintesa data
—Identifikasi masalah dan kekuatan
—Validasi masalah dengan pasien
—Memformulasikan diagnosis keperawatan
—Membuat prioritas masalah
—Elemen Kunci
—Diagnosis harus mencerminkan respon koping adaptif dan maladaptive didasarkan pada kerangka kerja keperawatan semisal NANDA
—Diagnosis harus berkaitan dengan masalah-masalah kesehatan atau keadaan penyakit seperti yang tertulis dalam DSM atau ICD (Indonesia: PPDGJ)
—Diagnosis seharusnya berfokus pada fenomena dari perawat kesehatan jiwa
—STANDAR III : IDENTIFIKASI HASIL
—Perawat kesehatan jiwa mengidentifikasi hasil yang diharapkan secara individual terhadap pasien
—Rasional
Dalam konteks memberikan asuhan keperawatan, tujuan akhirnya adalah mempengaruhi outcome kesehatan dan meningkatkan status kesehatannya.
—Kondisi Perawat
—Keterampilan berpikir kritis
—Bekerja sama dengan pasien dan keluarga
—Perilaku Keperawatan
—Merumuskan hipotesis
—Menspesifikasi hasil yang diharapkan
—Memvalidasi tujuan dengan pasien
—Elemen Kunci
—Hasil (outcome) seharusnya diidentifikasi bersama-sama dengan pasien
—Hasil seharusnya diidentifikasi sejelas dan seobyektif mungkin
—Hasil yang dituliskan dengan jelas membantu para perawat untuk menentukan efektifitas dan efisiensi intervensi mereka
—Sebelum merumuskan hasil yang diharapkan perawat harus menyadari bahwa pasien mencari bantuan seringkali mempunyai tujuan mereka sendiri
—Kualitas Kriteria Hasil
—Spesifik tidak (general) umum
—Measurable (dapat diukur/obyektif) tidak subyektif
—Attainable (dapat dicapai) dari pada unrealistic
—Current (sekarang) tidak
—Addequate jumlahnya tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit
—Muttual tidak bertolak belakang
—STANDAR IV : PERENCANAAN
—Perawat kesehatan jiwa mengembangkan rencana asuhan dalam bentuk tindakan tertulis untuk mencapai hasil yang diharapkan
—Rasional
Rencana asuhan digunakan untuk memandu intervensi terapeutik secara sistematis, dengan proses dokumen, dan mencapai hasil yang diharapkan oleh pasien.
—Kondisi Perawat
—Aplikasi teori
—Identifikasi aktivitas keperawatan
—Validasi rencana dengan pasien
—Elemen Kunci
—Rencana asuhan keperawatan harus bersifat individual (khas) untuk pasien
—Intervensi yang direncanakan seharusnya didasarkan pada pengetahuan terbaru dalam area praktek keperawatan kesehatan jiwa
—Perencanaan dilakukan dalam kolaborasi dengan pasien, keluarga, dan tim kesehatan
—Dokumentasi rencana asuhan adalah aktivitas keperawatan yang penting.
—STANDAR V : IMPLEMENTASI
—Perawat kesehatan jiwa menerapkan intervensi yang teridentifikasi dalam rencana asuhan
—Rasional
—menggunakan rentang intervensi yang lebar yang dirancang untuk mencegah sakit mental dan fisik, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan fisik dan mental.
—menyeleksi intervensi sesuai dengan level praktek mereka.
—Kondisi Perawat
—Pengalaman klinis sebelumnya
—Pengetahuan tentang penelitian
—Dimensi responsive dan tindakan dari asuhan
—Perilaku Keperawatan
—Mempertimbangkan sumber yang tersedia
—Mengimplementasikan aktivitas keperawatan
—Menghasilkan alternatif-alternatif
—Berkoordinasi dengan anggota tim lainnya
—Elemen Kunci
—Intervensi keerawatan seharusnya merefleksikan pendekatan holistick biopsikososial dalam merawat pasien
—Intervensi keperawatan diimplementasikan dengan cara yang aman, efisien, dan penuh kasih sayang (caring)
—Tingkat fungsi perawat dan intervensi yang diimplementasikan tergantung pada undang-undang praktek perawat, kualifikasi perawat (meliputi pendidikan, pengalaman dan sertifikasi), tempat pemberian asuhan, dan inisiatif perawat.
—
—STANDAR VA: KONSELING
Perawat kesehatan jiwa menggunakan intervensi konseling untuk membantu pasien meningkatkan atau memulihkan kembali kemampuan koping sebelumnya, mengembangkan kesehatan jiwa, dan mencegah penyakit jiwa dan kecacatan.
—STANDAR VB: TERAPI LINGKUNGAN
Perawat kesehatan jiwa memberikan, membentuk, dan mempertahankan lingkungan yang terapeutik bekerja sama dengan pasien dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain.
—
—STANDAR VC: AKTIVITAS PERAWATAN DIRI
Perawat kesehatan jiwa menyusun intervensi sekitar aktivitas keseharian pasien untuk mengembangkan kemampuan perawatan diri dan kesehatan fisik dan mental.

 

—STANDAR VD: INTERVENSI PSIKOBIOLOGIKAL
Perawat kesehatan jiwa menggunakan pengetahuan tentang intervensi psikobiologikal dan mengaplikasikan keterampilan klinis untuk mengembalikan status kesehatan pasien dan mencegah terjadinya kecacatan di masa depan.
—
—STANDAR VE: PENDIDIKAN KESEHATAN
Perawat kesehatan jiwa melalui pendidikan kesehatan membantu pasien mencapai pola hidup yang memuaskan, produktif dan sehat.
—
—STANDAR VF: MANAJEMEN KASUS
Perawat kesehatan jiwa memberikan manajemen kasus untuk mengkoordinir pelayanan kesehatan yang komprehensif dan menjamin perawatan berkesinambungan
—
—STANDAR VG: PROMOSI KESEHATAN DAN MEMPERTAHANKAN KESEHATAN
Perawat kesehatan jiwa menggunakan strategi dan intervensi untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dan mencegah penyakit jiwa

 

—INTERVENSI PRAKTEK KEPERAWATAN JIWA LANJUT
Intervensi berikut ini(VH – VJ) dapat dilaksanakan hanya oleh Perawat Spesialis Keperawatan Jiwa
—
—STANDAR VH: PSIKOTERAPI
Perawat Spesialis Keperawatan Jiwa (SKJ) menggunakan psikoterapi individu, kelompok, dan keluarga, dan penanganan terapeutik lainnya untuk membantu pasien mencegah penyakit jiwa dan disabilitas dan dalam meningkatkan status kesehatan mental dan kemampuan berfungsi.
—
—STANDAR VI: MERESEPKAN OBAT FARMAKOLOGI
Perawat SKJ menggunakan otoritasnya untuk membuat resep, prosedur dan penanganan sesuai dengan peraturan perundangan.
—
—STANDAR VJ: KONSULTASI
Perawat SKJ memberikan konsultasi untuk meningkatkan kemampuan perawat lain dalam memberikan pelayanan kepada pasien dan berdampak perubahan pada system.
—STANDAR VI : EVALUASI
—Perawat kesehatan jiwa mengevaluasi proses pasien dalam mencapai hasil yang diharapkan.

 

—Rasional
Asuhan keperawatan adalah proses yang dinamis meliputi perubahan pada status kesehatan pasien sepanjang waktu, memberikan tambahan data, diagnosa berbeda, dan modifikasi dalam rencana asuhan. Karenanya evaluasi adalah proses berkesinambungan dalam menilai efek keperawatan dan regiment asuhan terhadap status kesehatan pasien dan hasil yang diharapkan.
—Kondisi Perawat
—Supervisi
—Analisa diri
—Peer review
—Partisipasi pasien dan keluarga
Perilaku Keperawatan
Membandingkan respons pasien dan criteria hasil yang diharapkanReview proses keperawatan
Memodifikasi proses keperawatan sesuai kebutuhan
Berpartisipasi dalam aktivitas peningkatan mutu
Elemen Kunci
Evaluasi adalah proses terus menerus (ongoing process)
Partisipasi pasien dan keluarga adalah pentingPencapaian tujuan seharusnya didokumentasikan dan revisi rencana asuhan seharusnya diimplementasikan dengan sesuai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s